Arsip

Posts Tagged ‘Tips KPR Rumah Secondary’

Saat Tepat Membeli Rumah


Pada masa resesi konsumen memiliki posisi tawar yang lebih kuat di pasar.

Seperti ekonomi, bisnis properti juga mengenal masa naik (booming) dan turun (resesi). Di antara keduanya ada fase kontraksi (pengerutan) dan pemulihan (revival) yang merupakan periode transisi. Setiap fase berlangsung selama dua tahun atau lebih. Konsumen perlu mengetahui ciri-ciri setiap fase itu untuk membantu mereka melakukan transaksi pada saat yang tepat.
Menurut Direktur Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit, fase booming atau peak ditandai dengan likuiditas yang longgar, inflasi dan suku bunga rendah. Orang banyak memegang uang dan ingin membeli barang sehingga pengembang berpesta. Sebab itu masa ini disebut juga sellers market (pasar penjual).
Tapi, tingginya permintaan itu biasanya sulit diimbangi sisi penawaran (supply), karena pengembangan properti butuh waktu. Walhasil, rumah masih dalam masa persiapan sudah diserbu pembeli. Harganya pun naik. Begitu pula harga bahan bangunan. Akibatnya inflasi mulai terkerek, diikuti kenaikan suku bunga dan seretnya likuiditas. Sebagian konsumen mulai menunda pembelian.
Dampak lebih jauh, penjualan developer menurun dan suplai mengendur. Launching produk baru makin jarang. Developer mulai mengiming-imingi konsumen dengan berbagai insentif untuk menahan penurunan itu. Inilah masa kontraksi yang disebut juga weak market (pasar lemah).
Penurunan itu terus berlangsung yang ditandai dengan likuiditas ketat, inflasi dan bunga tinggi. Bisnis properti pun memasuki masa resesi. Penjualan pengembang benar-benar mencapai titik nadir. Ibaratnya barang mencari uang. Karena itu fase ini disebut juga buyers market (pasar pembeli).
Situasi buruk itu akan berangsur pulih setelah inflasi dan bunga turun dan likuiditas mengendur. Penjualan rumah kembali membaik. Inilah masa pemulihan yang disebut juga soft market (pasar lunak). Begitu seterusnya.

Anomali
Panangian menjelaskan, saat ini bisnis properti sebenarnya sudah memasuki fase revival, yang ditandai dengan turunnya BI rate 150 basis poin dalam tiga bulan terakhir menjadi 7,75 persen. Sayangnya, penurunan itu belum diikuti penurunan bunga bank. Bank-bank masih mematok bunga deposito yang tinggi (11 – 12 persen) karena khawatir kesulitan likuiditas di tengah krisis keuangan global, sehingga bunga KPR dan kredit konstruksi pun tetap tinggi (14,5 – 17 persen).
Persyaratan uang muka juga masih ketat, minimal 30 persen dari biasanya bisa 10 persen. “Jadi, situasinya anomali dan sangat tidak rasional. Spread (selisih) antara BI rate dan bunga kredit mencapai 7 – 8 persen. Sebab itu saat ini masih bisa disebut fase resesi,” katanya. Nah, resesi adalah saat yang tepat baik bagi konsumen yang membeli rumah untuk dihuni sendiri (end user) maupun investasi. Posisi tawar mereka di pasar lebih kuat.
Developer sangat butuh uang tunai sehingga akan memberi aneka insentif. Mulai dari diskon harga, subsidi bunga, pembayaran tunai bertahap yang lebih panjang, sampai uang muka bisa dicicil. Developer bisa memberi salah satu atau kombinasi dari aneka insentif itu tergantung situasi pasar masing-masing (contoh-contoh perumahan yang memberi berbagai insentif itu sudah kami tulis di Pasar Properti edisi Februari 2009).
Selain itu desakan kebutuhan likuiditas juga mendorong developer lebih inovatif dan memerhatikan kualitas. Pasalnya, permintaan lebih sedikit ketimbang penawaran. Penjual harus menawarkan harga yang terbaik untuk merebut konsumen. Pembeli benar-benar menjadi raja.
“Ini keuntungan lain membeli rumah pada masa resesi. Kita bisa mendapatkan produk berkualitas dengan harga yang lebih kompetitif,” kata Panangian. Sebaliknya pada saat pasar booming, pengembang cenderung mengejar kuantitas demi memenuhi permintaan yang tinggi. Kualitas pun terabaikan. Yoenazh K Azhar

Kota Harapan Indah
Siapkan Dana Sejak Awal

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan saat membeli rumah sudah sering diungkap: lokasi strategis, legalitas lengkap, sertifikat induk sudah atas nama developer, reputasi developer bagus, dan bisa dibeli dengan KPR. Tapi, sebelum sampai ke situ terlebih dulu perlu dirumuskan: rumah seperti apa yang diinginkan dan berapa range harganya?

Setelah itu siapkan dana untuk uang muka, biaya KPR, biaya renovasi kecil-kecilan, biaya pindah, membeli perabot, dan lain-lain. Kemudian, tentukan prioritas lokasi. Setiap orang berbeda-beda prioritasnya. Ada yang ingin rumah yang mudah dicapai dari tempat kerja, ada yang mengutamakan rumah yang dekat dengan fasilitas untuk anak istri.

Yang jelas di manapun lokasinya, pastikan aksesnya cukup baik dan di dalam atau di sekitar perumahan tersedia fasilitas sosial dan komersial standar. Untuk itu survei langsung ke lokasi. Bandingkan rumah sekelas di sejumlah perumahan di kawasan, dan pilih yang terbaik kualitas bangunan dan lingkungannya secara fisik dan sosial.

Artinya, cukup aman, tidak banjir, tidak dekat pabrik dan tempat pembuangan sampah, kualitas air cukup baik, infrastruktur dan utilitas memadai. Desain layout rumah sebaiknya simpel saja supaya mudah menambahkan elemen pribadi. Tapi, jangan hanya terpukau dengan tampak muka dan desain layout rumah. Cemati juga spesifikasinya.

Kalau pondasinya batu kali dan struktur beton bertulang, tanyakan berapa kedalaman dan lebar pasangan batu kali serta diameter besinya. Pondasi dan struktur jauh lebih penting karena menyangkut ketahanan dan keamanan rumah terhadap beban, cuaca, pergeseran tanah, dan gempa. Akan lebih bagus kalau sudah ada rumah contoh. Lebih mudah memperkirakan kualitas rumah sekaligus indikator developer sudah mengantungi legalitas lengkap.

Sebelum membayar DP cermati draf PPJB yang disodorkan developer. Perjanjian harus jelas menyebut luas tanah dan bangunan, bentuk dan posisi tanah, spesifikasi bangunan, jadwal serah terima, dan sistem pembayaran. Klausul perjanjian juga mesti proporsional. Kalau kita dikenai denda untuk setiap keterlambatan pembayaran, kita juga bisa minta developer menerakan klausul serupa bila serah terima rumah meleset.

Kontrol pembangunan rumah secara berkala, supaya kalau ada yang melenceng kita bisa segera minta diluruskan. Saat serah terima periksa lagi luas tanah dan bangunan, spesifikasi bangunan terutama dinding, lantai, rangka atap, atap, dan plafon. Apakah semua sudah sesuai dengan yang diperjanjikan? Pastikan juga listrik, air bersih, saluran pembuangan, kloset, dan lain-lain berfungsi. Untuk itu lakukan tes terhadap berbagai utilitas tersebut.

Investor

Bagi investor faktor-faktor yang perlu dicermati kurang lebih sama. Hanya pertimbangannya lebih objektif. Lokasi misalnya, bisa di mana saja asal menguntungkan. Kalau bisa rumah menghadap ke timur dan memiliki view menyenangkan (ke arah taman, danau, golf course, dan lain-lain) supaya mudah disewakan. Secara umum, menurut Panangian, yang prospektif sebagai investasi adalah:

  1. Rumah yang selaras dengan segmen pasar terbesar di lokasi. Misalnya, kalau di kawasan banyak mahasiswa, rumah yang mudah disewakan kepada kalangan itu pasti investasi yang menarik.
  2. Rumah di kawasan yang sedang berkembang (sunrise). Cirinya, stok tanah masih luas, pengembangan rumah dan berbagai fasilitas terus berlangsung. Penataan ruang, infrastruktur, dan utilitasnya juga lebih baik. Sementara populasinya terus bertambah; arus orang yang masuk ke lokasi lebih tinggi daripada yang keluar. “Bisa saja okupansi perumahan rendah, tapi tidak banyak yang menjual rumahnya. Itu berarti ekspektasi orang terhadap prospek kawasan cukup tinggi,” ujarnya.
  3. Rumah mudah diakses dari pusat kota atau sentra aktivitas perkotaan seperti kawasan bisnis, perdagangan, hiburan, pendidikan, pemerintahan, dan lain-lain.
  4. Rumah di kawasan yang bakal mendapat akses baru seperti jalan tol, sumber daya baru seperti minyak bumi dan gas, atau pengembangan dan fasilitas baru yang menarik kedatangan banyak orang.
  5. Rumah di kawasan yang baru diremajakan, atau rumah di kawasan yang menjadi preferensi kalangan tertentu seperti (di Jabodetabek) Menteng, Kebayoran Baru, Kemang, Pondok Indah, Kelapa Gading, Puri Kembangan, Bintaro, dan Serpong.
Investasi bisa jangka pendek atau panjang. Main jangka pendek misalnya, kita membeli rumah saat pre launching lalu menjualnya menjelang serah terima. “Keuntungannya bisa 25 persen,” kata Panangian. Sebaliknya kalau bermain jangka panjang, keuntungannya dari hasil sewa (yield) dan kenaikan nilai rumah (capital gain).
Hanya saja yield rumah kecil, sekitar 3 – 5 persen/tahun. Rumah seharga Rp500 juta misalnya, harga sewanya paling tinggi Rp25 juta/tahun. Yang tinggi gain-nya, bisa mencapai 15 – 25 persen/tahun. Artinya, rumah sejatinya investasi jangka panjang (di atas lima tahun) dengan keuntungan utama dari gain. Bagaimana agar rumah menghasilkan gain yang optimal?
“Kita harus berupaya mencari rumah dengan harga paling kompetitif,” jawabnya. Saat buyers market rumah seperti itu banyak ditawarkan, karena terdesak kebutuhan uang tunai, over kredit, dan lain-lain. Pemilik bersedia melepas rumah dengan harga likuidasi (70 persen dari nilai pasar). Karena itu penting bagi investor untuk bersiap dengan duit tunai untuk menangkap peluang itu.
Akan lebih berlipat keuntungannya kalau pembelian bisa dibiayai bank. Katakanlah, anda bisa membeli rumah senilai Rp500 juta seharga Rp400 juta. Anda langsung mendapat apresiasi instan Rp100 juta. Bila sebuah bank mau memberi kredit 80 persen, praktis Anda membelinya dengan modal nol.

Tenor paling lama
Yang juga tinggi gain-nya adalah rumah yang bisa dibeli dengan tenor KPR paling lama dan mudah disewakan. Misalnya, Anda membeli rumah seharga Rp1 miliar dengan depe Rp200 juta (20 persen) dan KPR Rp800 juta (80 persen). Dengan bunga 10 persen (flat) dan tenor 20 tahun, total utang anda (pokok+bunga) = Rp1,6 miliar. Dibagi 20 tahun atau 240 bulan cicilannya = Rp6,6 juta/bulan.
Karena rumah berada di kawasan yang disukai ekspatriat, anda bisa menyewakannya Rp60 juta/tahun atau Rp5 juta/bulan. Jadi, anda nombok Rp1,6 juta/bulan atau Rp384 juta selama 240 bulan. Tapi, karena lokasi rumah prospektif, harganya naik rata-rata 15 persen/tahun sehingga peningkatan nilai rumah menjadi:

Tahun
Harga (Rp)
2009
2010
2011
2012
2013
2014
1 miliar
1,15 miliar
1,32 miliar
1,5 miliar
1,75 miliar
2 miliar

Setelah tahun kelima anda menjual rumah itu. Saat itu saldo utang tinggal Rp1,2 miliar. Dengan demikian keuntungan anda Rp800 juta (Rp2 miliar – 1,2 miliar) dari modal Rp584 juta (Rp200 juta + 384 juta) dalam lima tahun. Jadi, return-nya = Rp800 juta : Rp584  juta = 136,9 persen atau 27,3 persen/tahun.

Rumah lain yang berpotensi naik tinggi adalah rumah yang masih bisa diperluas atau dikembangkan, rumah warisan, dan rumah yang bisa diubah peruntukannya. Dengan memperbaiki desain dan utilitasnya, memberinya fasilitas baru, membuatnya lebih asri, menyewakannya sebagai kantor, nilai rumah akan naik jauh di atas modal yang dikeluarkan untuk meng-up grade-nya.

Hanya memang, untuk bisa berinvestasi secara benar seorang investor perlu memahami karakteristik pasar setempat karena properti sangat localized, dan jeli melihat peluang. Selalu mengikuti perkembangan ekonomi dan kota, membekali diri dengan pengetahuan tentang bangunan dan tren desain, serta informasi nilai pasar dan harga sewa properti setempat, akan sangat membantu.

Misalnya, rumah seharga Rp500 juta dengan sewa rata-rata Rp10 juta (yield 2 persen) dan kenaikan nilai di bawah 15 persen/tahun, kurang layak sebagai investasi. Tapi, ketika pemerintah merealisasikan pembangunan jalan tol yang membuat akses ke perumahan menjadi lebih enak, ceritanya jadi berbeda. Contoh lain: rumah di sebuah kawasan boleh jadi sangat prospektif, tapi kalau suplai terlalu banyak atau penetapan harga terlalu tinggi, anda sulit berharap dari keuntungan jangka pendek.

Investor juga harus lebih memahami siklus properti agar tahu kapan menjual (sell), membeli (buy), menahan (hold), atau menukar (exchange/switch). “Beli saat buyers market, jual saat sellers market, tahan saat weak market, dan tukar properti yang sudah menurun pertumbuhannya dengan yang baru saat soft market,” jelas Panangian.

Pembelian bisa tunai atau kredit. Bila selisih bunga kredit dengan deposito di atas lima persen (tinggi), lebih baik beli tunai atau fasilitas KPR dengan jangka kredit kurang dari lima tahun. Kalau selisihnya antara 3 – 5 persen (sedang), beli secara tunai bertahap atau KPR dengan uang muka besar dan jangka waktu kreditnya 5-10 tahun. Bila selisihnya kurang dari tiga persen (rendah), beli secara kredit dengan tenor paling lama. Lantas untuk meminimalisir risiko, saat tren bunga meninggi ambil KPR dengan bunga fixed untuk jangka beberapa tahun. Sebaliknya kalau bunga cenderung menurun ambil KPR floating.

From : housing-estate.com

Iklan

KPR Panin

PARTNER NAME KPR Panin
ADDRESS Jl. Jendral Sudirman Kav. 1 – (Senayan)
Jakarta Selatan
PHONE (021) 2700545 (10 lines),
FAX (021) 2700340
EMAIL panin@panin.co.id
WEBSITE http://www.panin.co.id
CONTACT PERSON Panin

You can have a Nice and Green house Quick and Easy with KPR Panin.

KPR Panin offers credit for house, shop-house/office-house, apartment, villa, land, renovation and construction.You can afford a new or second house from a contractor, private owner or property agent.So, make your dream come true with KPRPanin.

Getting the benefits from KPRPanin :
• Competitive interest rate
• Reasonable administration fee
• Moderate down payment
• Quick appraisal process with simple terms and conditions
• Credit limit up to 20 years
• Flexible partly or full settlement before due time
• Interesting programs to meet your needs

Enjoy the best service from all Panin Bank Branch Offices in Indonesia

Best service is our commitment. With online system in more than 250 branch offices in Indonesia, you can apply for KPRPanin nice and easy.

Terms and Conditions :
• Indonesian Citizen
• 21-55 years old range of age
• Employee/entrepreneur/professionals

No. Type of Document Employee Entrepreneur Professionals
1 Copy of Applicant’s ID
2 Copy of Applicant’ Spouse’s ID
3 Copy of Family Relationship Card (Kartu Keluarga) / Certificate of Marriage
4 Copy of Tax Registration Number &/ Annual Tax Return – Art. 21 Income Tax
5 Copy of Trading License, Company Registration, Domicile Letter
6 Copy of License
7 Copy of Bank Account or Account Statement (last 3 months)
8 Salary Receipt (last 3 months)
9 Copy of Financial Report (last 2 years)

KPR BCA

PARTNER NAME KPR BCA
ADDRESS BCA Consumer Plus MAG, Mall Artha Gading Lantai Dasar, Zona India, Blok A6 No.9-16
Jakarta Utara
PHONE (021) 52-998-998,
FAX
EMAIL halobca@bca.co.id
WEBSITE http://www.klikbca.com
CONTACT PERSON BCA

It is everybody’s dream to have a house. Nevertheless, to make it come true we need a big sum of money. BCA understands very well that many people cannot afford to buy a house in cash. Therefore, BCA offers you KPR BCA, a type of loan to purchase or renovate a house. KPR BCA is aim at one individual or employee who can meet the conditions and afford the installments.


Conditions :

  • Applicant must be Indonesian citizen, employee, entrepreneur or professionals
  • Working or trading experiences minimum 2 years.
  • Applicant must be min. of 21 years, or married and maximum of 55 years for employee and 60 years for entrepreneur or professionals when the installment ends.
  • The house is for own use (not for sale/investment)
  • Installment (principal + interest) of total debts (in BCA + other banks) + new application max. 1/3 of applicant’s gross salary/husband and wife’s joint income.
  • Applicant must close insurance (life and fire insurance) under banker’s clause.
  • Applicant must sign credit contract and Mortgage Certificate.
  • Installment automatically cut off the applicant’s account in BCA.
  • Documents to be enclosed by applicant :
Document
Employee
Enterpreneur
Professionals
1
Copy of Applicant’s ID
2
Copy of spouse’s ID
3
Copy of  Family Card
4
Copy of Certificate of Marriage
5
Copy of Tax Registration Number/ Annual Tax Return
6
Copy of Trading License
7
Copy of Company Registration
8
Copy of Deed of Establishment & Article of Association
9
Copy of Endorsement from Minister of Justice *)
10
Copy of License
11
Original Salary Receipt (last month)/Income Statement **)
12
Copy of Account Statement or Savings last 3 months
13
Recommendation Letter from Company **)

*) Only for Entrepreneur of Limited Company
**) Only for husband and wife’s Joint Income

Housing Documentations to be enclosed:

No.
Document
New House
Secondary House
1
Copy Deed of Title/ Deed of Periodic Ownership Scheme (HM/HGB)
2
Copy of Building Permit (IMB)
3
Copy Blueprint
4
Copy of Sale & Purchase Agreement
5
Copy of latest Property Ownership Tax
6
Renovation Cost*

*) Only for renovation

KPR Merdeka

PARTNER NAME KPR Merdeka
ADDRESS Bank NISP Tower lt. 16, Jl. Dr. Satrio No. 25
Jakarta Selatan
PHONE (021) 25533888,
FAX (021) 57944000
EMAIL nisp@banknisp.com
WEBSITE http://www.kprmerdeka.com
CONTACT PERSON merdeka

KPR Merdeka nisp

KPR MERDEKA is one of loan service products courtesy of BANK NISP. Mortgage program that offers you several simple steps such as:

Five Working Days Full Approval
No more long waiting periode and uncertain situation. By applying KPR MERDEKA you can get approval within 5 working days after completing all conditions and documents.

Without Penalty
Free full or partial payment without penalty at any time, later than one year of installment periode.

On-line Application…
Are you too busy and cannot find a time to make an application? Do not hesitate to enter our on-line application right now…

General Terms and Condition:

1. Applicant:
Indonesian Citizen
Minimum 21 year old or married
Maksimum age for:
† Employee: installment periode + applicant’s age < 55 years
† Employer: installment periode + applicant’s age < 60 years

2. Installment’s Condition:
Minimum Installment: IDR 50 Million
Life and Fire Insurance
Installment periode:
† Mortgage (KPR): 1 -15 years
† Shop-House Mortgage (KP-Ruko/Rukan): 1 – 10 years
† Construction/Renovation Loan: 1 -10 years

Documents Needed
Employee
Enterpreneur
Professionals
Photo 3 x 4 cm of Applicant + Spouse (1 copy) ü ü ü
Copy of Applicant + Spouse’s ID Card ü ü ü
Copy of Family Relationship Card ü ü ü
Copy of Certificate of Marriage/ Divorce / Separate Assets (if any) ü ü ü
Copy of Indonesia Citizen Card and Name Alteration Certificate (if any) ü ü ü
Copy of Tax Registration Number &/ Annual Tax Return – Art. 21 Income Tax ü ü ü
Copy of Account Statement / Savings (last 3 months) ü ü ü
Original Salary Receipt (last 3 months) ü
Original Employment Reference Letter ü
Copy of Trading License, Company Registration, Domicile Letter ü
Copy of Deed of Establishment & Article of Association ü
Copy of Financial Report (last 2 years, if any) ü
Medical Permit / Letter of Appointment ü
Copy Certificate of recent Building Permit, Sale & Purchase Agreement and Property Ownership Tax ü ü ü

Biaya Lain Setelah Membeli Properti

Memiliki rumah adalah impian bagi setiap pasangan muda. Tapi jangan anggap setelah selesai KPR dan punya rumah, maka selesailah masalah. Masih banyak hal lain yang perlu dipersiapkan. Misalnya, isi rumah. Ada kitchen set, bed set, dining set, dan yang lainnya.

Bagi pasangan muda, memiliki rumah adalah sebuah impian. Sayangnya, membeli rumah saja belum berarti impian tersebut benar-benar terlaksana. Karena kita juga perlu mempersiapkan barang-barang penting yang harus ada agar rumah tersebut bisa cukup nyaman ditempati. Apa saja contohnya?

1. Barang-barang dapur

Bagi seorang istri membuat makan pagi untuk suami adalah hal rutin yang perlu dilakukan. Karena itu, peralatan memasak mutlak diperlukan.

2. Perlengkapan kamar tidur

Setidaknya perlu ada tempat tidur, bantal, guling dan meja rias untuk berkaca. Jangan lupa juga seprai dan gorden.

3. Perlengkapan ruang tamu

Masa iya tamu yang sudah jauh-jauh datang dibiarkan begitu saja? Setidaknya diperlukan ruang tamu sederhana, misalnya dengan karpet dan meja kecil.

4. Perlengkapan mencuci dan menyetrika

Ketika istri di rumah, suami tetap harus bekerja kan? Pakaian adalah salah satu hal yang perlu diperhatikan.

Lalu, apa hubungannya dengan rencana keuangan? Coba Anda list satu persatu barang-barang di atas dan harganya. Menurut perkiraan saya, untuk kelengkapan yang paling sederhana pun setidaknya dibutuhkan dana minimal Rp.5 juta. Bagi sebagian besar pasangan muda, jumlah ini bisa jadi cukup besar. Apalagi kalau barang yang dibeli ternyata lebih banyak dan dengan kualitas yang jauh lebih baik. Nah, agar keuangan tidak terlalu terbebani saat rumah siap ditempati, maka tentu saja diperlukan rencana dari awal. Beberapa saran dari saya untuk mempersiapkan kelengkapan rumah ini:

– Memanfaatkan apa yang sudah ada

Jangan buang apa yang Anda punya, walaupun itu hanya sekedar gelas, piring, keset ataupun tempat sampah. Karena rumah baru justru membutuhkan barang-barang seperti ini.

– Menyisihkan uang secara berkala sejak dini

Saya sendiri kurang menyarankan membeli perlengkapan rumah dengan cara kredit, kecuali sudah sangat mendesak. Mengapa? Karena biasanya bunga yang harus dibayarkan untuk barang-barang seperti ini cukup besar, hingga akan lebih baik jika membeli dengan cara tunai. Selain itu, pembelian dengan cara kredit jelas akan menambah beban cashflow. Kalau porsi hutang Anda sudah pada titik maksimal, pembebanan kredit barang-barang rumah tangga bisa semakin menyeret Anda pada kondisi keuangan yang tidak sehat. Makanya, lakukanlah perencanaan dengan matang dan sisihkan uang sejak dini. Bukan hanya untuk rumahnya saja tetapi juga untuk isinya. Kalaupun Anda sudah tidak bisa menyisihkan dari penghasilan bulanan, Anda bisa menggunakan bonus dan THR untuk mempersiapkan biaya ini.

– Mencicil pembelian barang-barang dari sekarang

Mencicil disini bukan berarti membeli dengan cara kredit ya. Maksudnya adalah membeli barang-barang satu persatu, tidak harus sekaligus. Sebagai tahap awal, Anda bisa merencanakan untuk melengkapi kamar tidur dan membeli setrika dahulu. Lalu berikutnya ketika sudah ada uang lagi, Anda bisa menambah dengan barang-barang dapur seperti kompor, tabung gas dan panci. Dan terus begitu hingga barang-barang di rumah Anda lengkap. Agar pembelian mencicil ini tidak tumpang tindih, buatlah daftar barang-barang yang belum ada dan lakukan update setelah membeli.

Yuk, kita rencanakan juga dari sekarang bagaimana isi rumah kita nantinya.

[Safir Senduk, http://www.propertykita.com]

Cara Over Kredit Rumah KPR

Apakah pengertian Over Kredit itu?

Over kredit rumah adalah proses pengalihan kredit rumah dari pihak debitur lama ke pihak debitur baru.

Sebagai contoh : Misalkan Bayu telah membeli rumah dengan KPR berjangka waktu 15 tahun. Kemudian pada tahun ke-10 Bayu ingin menjual rumahnya kepada Diana. Diana dapat membeli rumah itu sesuai harga yang diminta Bayu ditambah sisa pokok kredit yang masih ada dan kemudian Bayu melunasi kredit rumah itu ke bank. Atau langkah kedua, Diana membayar harga yang diinginkan Bayu dan meneruskan kredit Bayu sampai lunas setelah jangka waktu 15 tahun itu.

Proses kedua ini yang dimaksud dengan proses over kredit kpr. Jadi kita menggantikan pembayaran angsuran kredit orang lain yang rumahnya kita beli.

Dalam proses over kredit rumah ini terdapat beberapa cara dimana masing-masing cara sangat berpengaruh terhadap legalitas dokumen hukumnya. Anda perlu memilih benar cara mana yang paling aman bagi Anda agar pada saatnya apabila over kredit kpr itu lunas Anda bisa mengambil Sertifikat Rumah di bank dengan mudah dan tanpa kendala.

Proses Melalui Notaris

Pada proses ini, Anda dan penjual menghubungi notaris dan menyampaikan maksud Anda untuk melakukan over kredit atas rumah penjual.

Anda dan penjual diwajibkan menyertakan dokumen pendukung antara lain:

  1. Fotokopi Perjanjian Kredit
  2. Fotokopi Sertifikat yang ada stempel bank-nya
  3. Fotokopi IMB
  4. Fotokopi PBB yang sudah dibayar
  5. Fotokopi bukti pembayaran angsuran
  6. Asli buku tabungan bernomor rekening untuk pembayaran angsuran
  7. Data penjual dan pembeli, misalnya KTP, Kartu Keluarga, Buku nikah dan sebagianya.

Notaris kemudian membuat Akta Pengikatan Jual beli atas pengalihan hak atas tanah dan  bangunan yang dimaksud berikut Surat Kuasa untuk melunasi sisa angsuran dan kuasa untuk mengambil sertifikat. Kemudian Penjual membuat Surat Pernyatan/Pemberitahuan bahwa telah terjadi alih kewajiban dan hak atas kredit dan agunan dimaksud.

Surat pernyataan ini ditujukan kepada bank. Jadi sejak pengalihan ini, walaupun angsuran dan sertifikat masih atas nama penjual, tapi karena haknya sudah beralih maka penjual tidak berhak lagi untuk melunasi sendiri dan mengambil asli sertifikat yang berkenaan pada BTN.

Kemudian dilakukan pembuatan Pengikatan Perjanjian Jual Beli oleh Notaris dan selanjutnya Anda dan penjual mendatangi Bank pemberi KPR dan menyerahkan dokumen yang diperoleh dari Notaris.

Pada proses ini transaksi yang terjadi cenderung aman secara hukum karena dilaksanakan di depan pejabat Negara yang berwenang yaitu notaris. Rumah dimaksud dapat diperjualbelikan kembali dengan membuat surat kuasa jual sesuai ketentuan yang berlaku.

Proses ini juga relative murah dibandingkan dengan proses over kredit di bank.

[www.rumahdanproperti.com]

KPR yang menggoda dengan tawaran bunga tetap

perbandingan bunga kpr

Di atas adalah tabel dari Kontan tanggal 12 Januari 2010. Klik tabel tersebut untuk memperbesar.